Minggu, 09 Desember 2012

Galau

Cinta. Apakah yang terbersit pertama kali saat kita bicara tentang cinta? Anak Fakultas MIPA jurusan Matematika mungkin akan mengartikan bahwa cinta adalah sebuah teka-teki belaka. Cinta itu membingungkan, tapi bisa diselesaikan dengan beragam rumusan. Yang penting kita pegang konsep dasarnya dan kita dapat membolak-balikannya.

Cinta. Ada bedanya menurut anak Fakultas Ekonomi dengan anak jurusan Matematika. Mereka mengatakan bahwa cinta adalah titik keseimbangan dari penawaran dan permintaan yang disepakati. Cinta ibarat keyakinan Adam Smith yang meyakini pasar untuk selalu seimbang. Istilah Schumpeter keseimbangan itu disebut ‘arus sirkuler’ dimana bagi setiap penawaran telah menunggu suatu permintaan yang sama di suatu tempat, begitu juga bagi setiap permintaan menunggu pula penawaran yang sama. Cinta pasti akan seimbang pada waktu dan tempatnya, sehingga jangan pernah memaksakan cinta sesuai kehendak diri karena cinta memang hadir bukan untuk dipaksakan.

Cinta. Seribu makna.

Apa itu cinta? Cinta dimaknai anak jurusan Bahasa Indonesia sebagai puisi nan jenaka. Banyak buih kata namun punya beragam makna. Cinta semanis gula, seasem jeruk, sepahit kopi, seasin garam. Cinta ibarat sambal kecap yang membuat kita merasakan hal yang manis dan pahit secara sekaligus. Cinta tak bernyawa tapi tumbuh di dalam jiwa. Cinta tak berwarna namun bisa membuat kita mendadak tertawa. Cinta tidak berasa tapi dapat membuat kita menjadi perasa. cinta itu buta, dan ia tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rintihannya adalah nafsunya. Kemilaunya adalah perhiasanya. Kedamaianya adalah cahayanya. Cinta adalah kegalauan hati bagi para pemiliknya. Puisi ini tampak sinergis dengan apa yang dikatakan oleh bapak Anis Matta. Menurutnya cinta itu kata tanpa sebuah definisi.

Cinta punya silogisme. Premis mayor cinta adalah kegalauan. Premis minor cinta adalah kita bisa galau. Apakah ketika kita galau maka kita sedang merasakan cinta? Sebuah judul dan pertanyaan penting untuk diriku atas refleksi minggu kelima keberadaanku di camp Hubla, Cipayung saat ini.

Lantas apa itu cinta menurut diriku? Menurut pengajar muda lulusan Fakultas Hukum? Menurutku, cinta adalah suatu hal yang bisa membuat seseorang kalau tidak ditembak maka akan digantung. Cinta itu menyakitkan. Cinta itu tidak bisa ditawar. Ia dikenakan kepada siapa saja. Tidak mengenal usia apalagi jabatan atau tahta. Cinta itu bagaikan kata-kata Bang Napi, "Cinta terjadi bukan karena niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan, Waspadalah... Waspadalah". Maka jangan bermain-main dengan cinta dan jangan turut serta ikut mencoba-coba. Karena pelaku, penyerta, pembujuk atau penganjur semua akan turut diminta pertanggungjawabannya. Tentu sesuai kadarnya, sesuai tindak-tanduk kejahatannya. Sebuah tindakan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa.

Inilah yang aku rasakan beberapa minggu berada di Hubla. Entah aku atau lingkunganku semua berkonspirasi untuk memunculkan perasaan cinta. Apa mau dikata aku terinfeksi premis khusus bernama galau. Katanya aku galau. Indikatornya aku lebih senang memutar lagu-lagu bernuasa cinta yang berayun sendu, mungkin ketukan dua per dua saking sendunya. Aku juga sering menyebut-nyebut namanya. Namanya masuk pada ruang-ruang kosong di amygdalaku. Atau mungkin sudah menggantikan hapalan-hapalanku. Dzikir hatiku sempat tergantikan dengan mengaum-ngaum hal-hal baru yang selalu kebetulan tentang dirinya. Entah sebuah nama jalan yang akan dituju tertera nama dirinya. Entah nama anak didikku yang dipanggil persis dengan sebutan namanya, walaupun sebenarnya itu adalah nama bapaknya. Kesamaan warna pakaian. Kesamaan sebuah asumsi pembicaraan. Kesamaan posisi duduk dalam sebuah pertemuan. Atau kejutan-kejutan lain yang tiba-tiba muncul bernuansa syahdu tentang dirinya. Aihhhhh. Salah apa aku pada dunia? Atau mungkin aku yang harus menyalahkan diriku tentang semua kebetulan-kebetulan yang ada? Aku tidak berharap memunculkan perasaan cinta. Aku tidak bermain-main pada kesempatan atau memunculkan niat untuk mencinta. Terlalu pagi mengatakan cinta pada aku yang tergolong tua. Tapi anehnya aku tak bisa berbuat apa-apa. Kadang-kadang aku hanya tersenyum malu dengan semua torehan takdir yang berjalan tanpa pernah diduga. Atau aku kadang menangis meratapi takutnya aku benar suka.

Itukah delik rasa cinta? Sebuah kegalauan yang dirasakan oleh para pemiliknya. Sebuah takdir dari Yang Maha Kuasa, dibuat dengan begitu sempurna. Takdir yang mengaduk-ngaduk hati manusia. Setiap orang bebas datang dan keluar, tergantung seberapa besar manajemen hatinya pada Allah Yang Maha Kuasa. Siapa saja dapat terseret mahligai cinta jika tak kuat iman dan hanya menuruti nafsu semata.

Mengelola cinta. Tak sulit namun berdaya ledak tinggi. Salah tingkah dapat menyebabkan hati bisa mati. Salah gerak dapat menyebabkan muka pucat pasi. Mungkin Allah punya misi. Sebuah janji yang telah disiapkanNya esok hari. Sebuah pelajaran hidup yang harus terus dievaluasi. Cobaannya hanya sekali. Bisa diulang, kalau kita tidak lulus pada ujian kali ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar